Nama : Nurlia Umasangaji
Nim : 2148036
Semester : III B (3B)
Sumatera Utara
A. GEOGRAFIS
Provinsi Sumatra Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatra Utara 72.981,23 km².
Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:
• Pesisir Timur
• Pegunungan Bukit Barisan
• Pesisir Barat
• Kepulauan Nias
Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya. Pada masa kolonial Hindia Belanda, wilayah ini termasuk residentie Sumatra's Oostkust bersama provinsi Riau.
Di wilayah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini terdapat beberapa wilayah yang menjadi kantong-kantong konsentrasi penduduk. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, merupakan daerah padat penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini.
Pesisir barat merupakan wilayah yang cukup sempit, dengan komposisi penduduk yang terdiri dari masyarakat Batak, Minangkabau, dan Aceh. Namun secara kultur dan etnolinguistik, wilayah ini masuk ke dalam budaya dan Bahasa Minangkabau.
B. LUAS DAN BATAS WILAYAH
• Luas Wilayah
Luas wilayah Sumatera Utara mencapai 18.298.123 ha (182.981,23 km2) yang terdiri dari luas daratan 7.298.123 km2 dan luas lautan 11.000.000 km2. Luas daratan Sumut sekitar 3,82 persen dari luas Indonesia dengan jumlah pulau sebanyak 206.
• Batas wilayah
Adapun batas wilayah provinsi Sumatra Utara ialah;
Utara
Provinsi Aceh dan Selat Malaka
Timur
Selat Malaka
Selatan
Provinsi Riau, Provinsi Sumatra Barat, dan Samudera Indonesia
Barat
Provinsi Aceh dan Samudera Indonesia
Terdapat 419 pulau di propisi Sumatra Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Sumatra (Malaka). Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudra Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.
Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatra Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.
Di Sumatra Utara saat ini terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan di Sumatra Utara saat ini 3.742.120 hektare (ha). Yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 52.760 ha.
Namun angka ini sifatnya secara de jure saja. Sebab secara de facto, hutan yang ada tidak seluas itu lagi. Terjadi banyak kerusakan akibat perambahan dan pembalakan liar. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan di Sumut telah mengalami perubahan fungsi. Telah berubah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. Dari luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk areal perkebunan dan 42.900 ha untuk areal transmigrasi.
C. SEJARAH
Sejarah
Pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatra Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement van Sumatra dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatra, dipimpin oleh seorang Gubernur yang berkedudukan di Kota Medan. Setelah kemerdekaan, dalam sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), Provinsi Sumatra kemudian dibagi menjadi tiga sub provinsi yaitu: Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan. Provinsi Sumatra Utara sendiri merupakan penggabungan dari tiga daerah administratif yang disebut keresidenan yaitu: Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatra Timur, dan Keresidenan Tapanuli.
Dengan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia (R.I.) No. 10 Tahun 1948 pada tanggal 15 April 1948, ditetapkan bahwa Sumatra dibagi menjadi tiga provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu: Provinsi Sumatra Utara, Provinsi Sumatra Tengah, dan Provinsi Sumatra Selatan. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Sumatra Utara.
Pada awal tahun 1949, dilakukan kembali reorganisasi pemerintahan di Sumatra. Dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I. Nomor 22/Pem/PDRI pada tanggal 17 Mei 1949, jabatan Gubernur Sumatra Utara ditiadakan. Selanjutnya dengan Ketetapan Pemerintah Darurat R.I. pada tanggal 17 Desember 1949, dibentuk Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatra Timur. Kemudian, dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 pada tanggal 14 Agustus 1950, ketetapan tersebut dicabut dan dibentuk kembali Provinsi Sumatra Utara.
Dengan Undang-Undang R.I. No. 24 Tahun 1956 yang diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, dibentuk Daerah Otonom Provinsi Aceh, sehingga wilayah Provinsi Sumatra Utara sebagian menjadi wilayah Provinsi Aceh.

D. DEMOGRAFIS
Penduduk
Sumatra Utara merupakan provinsi keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990, penduduk Sumatra Utara berjumlah 10,81 juta jiwa, dan pada tahun 2010 jumlah penduduk Sumatra Utara telah meningkat menjadi 12,98 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatra Utara pada tahun 1990 adalah 143 jiwa per km² dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 178 jiwa per km². Dengan Laju Pertumbuhan Penduduk dari tahun 2000-2010 sebesar 1,10 persen. Sensus penduduk tahun 2020, penduduk Sumatra Utara bertambah menjadi 13.937.797 jiwa, dengan kepadatan penduduk 191 jiwa/km², dan tahun 2021 berjumlah 15.136.522 jiwa.
ingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatra Utara setiap tahunnya tidak tetap. Pada tahun 2000 TPAK di daerah ini sebesar 57,34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57,70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69,45 persen.
E. AGAMA DAN SUKU BANGSA
Agama
Agama di Sumatera Utara (2020)
Agama
Islam
9.590.486
Protestan
4.035.391
Katolik
1.109.505
Buddha
367.817
Hindu
16.136
Konghucu
15.650
Lainnya 1.813
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik provinsi Sumatra Utara tahun 2021, mayoritas penduduk Sumatra Utara menganut agama Islam yakni 63,36%, kemudian Kristen 33,99% dimana Protestan 26,66% dan Katolik 7,33%. Kemudian Budha 2,43 %, Konghucu 0,11%, Hindu 0,10 % dan Parmalim 0,01%.[2] Sementara untuk sarana rumah ibadah, terdapat 12.499 Gereja Protestan, 10.738 Masjid, 4.822 Mushola, 2.488 Gereja Katolik, 393 Vihara, 99 Klenteng dan 84 Pura.[2]
Agama utama di Sumatra Utara berdasarkan etnis adalah:
• Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, Pesisir, Minangkabau, Jawa, Aceh, Arab, Mandailing, Angkola, sebagian Karo, Simalungun, Batak Pesisir dan Pakpak
• Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias dan sebagian Batak Angkola, Tionghoa.
• Hindu: terutama dipeluk oleh suku Tamil di perkotaan
• Buddha: terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan
• Konghucu: terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan
• Parmalim: kepercayaan asli suku Batak Toba, sebelum ajaran agama Kristen berkembang. Penganut Parmalim banyak bermukim di kecamatan Uluan, kecamatan Lumban Julu, kecamatan Ajibata, dan kecamatan Bonatua Lunasi di kabupaten Toba.
Suku bangsa
Rumah Bolon (Jabu Bolon), rumah adat suku Bata Toba
Sumatra Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, Siladang,[15] Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatra Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatra Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa. Di pesisir pantai timur seperti Langkat dan Deli Serdang terdapat etnis Banjar yang sudah ada sejak abad ke-19. Ada juga etnis India (terutama Tamil) dan Arab yang beradu nasib di Sumatra Utara.
Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010 dari 12.930.319 jiwa penduduk yang tercatat, mayoritas penduduk Sumatra Utara adalah orang Batak yakni 44,75%, sudah termasuk semua sub suku Batak, yakni Batak Toba, Karo, Angkola, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak. Kemudian Jawa, Nias, Melayu, Tionghoa, Minang, Aceh, Banjar, India, dan lain-lain.
Baju adat pernikahan Batak Angkola, dari Tapanuli Selatan
Berikut ini komposisi etnis atau suku bangsa di provinsi Sumatra Utara:
No Suku Jumlah 2010
%
1 Batak
5.785.716 44,75%
2 Jawa
4.309.719 32,41%
3 Nias
911.820 7,05%
4 Melayu
771.668 5,97%
5 Tionghoa
420.320 3,63%
6 Minangkabau
333.241 2,58%
7 Aceh
133.439 1,03%
8 Banjar
125.707 0,77%
9 India
66.640 0,56%
10 Sunda
35.500 0,27%
11 Warga Negara Asing 29.676 0,23%
12 Papua
11.254 0,09%
13 Suku Lainnya 85.619 0,66%
Sumatra Utara 12.930.319 100%
Rumah Adat suku Karo.
Rumah bolon suku Simalungun.
Rumah Adat Nias di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta
1. Suku Batak Angkola: Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Labuhanbatu, dan Kota Padangsidimpuan
2. Suku Batak Mandailing: Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Labuhanbatu
3. Suku Batak Simalungun: Kabupaten Simalungun, Serdang Bedagai, Kota Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi
4. Suku Batak Toba: Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Toba, Dairi, Simalungun, Tapanuli Tengah, Kota Medan, Kota Sibolga, Kota Pematang Siantar, dan Asahan
5. Suku Batak Pakpak: Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, dan Pakpak Barat
6. Suku Karo: Kabupaten Karo, Deli Serdang, Dairi, Langkat (bagian hulu), Kota Medan, Kota Binjai
7. Suku Melayu: Pesisir Timur, terutama di Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, Labuhanbatu, dan Kota Medan
8. Suku Nias: Pulau Nias, Kota Sibolga, Pesisir Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan
9. Suku Pesisir: Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga
10. Suku Minangkabau: Kota Medan, Kabupaten Asahan, Pesisir Barat
11. Suku Banjar: Kabupaten Langkat, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai
12. Suku Aceh: Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Langkat
13. Suku Jawa: Pesisir Timur
14. Suku Tionghoa: Perkotaan Pesisir Timur & Barat.
15. Suku Arab: Kota Medan
16. Suku India: Kota Medan, Kota Binjai, Kota Sibolga, Kota Pematangsiantar, dan Kota Tanjungbalai
17. Suku Siladang: Bukit Torsihite, Mandailing Natal.
F. EKONOMI
Pertanian dan perkebunan
Area persawahan di desa Ambarita, Simanindo, Pulau Samosir.
Provinsi ini tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan yang arealnya terdapat di Sumatra Utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan PTPN IV.
Selain itu Sumatra Utara juga tersohor karena luas perkebunannya. Hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatra Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkih, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan.
• Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas areal panen tinggal 807.302 hektare, atau turun sekitar 16.906 hektare dibanding luas tahun 2004 yang mencapai 824.208 hektare. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa ditingkatkan menjadi berkisar 43,49 kwintal perhektar dari tahun 2004 yang masih 43,13 kwintal per hektare, dan tanaman padi ladang menjadi 26,26 kwintal dari 24,73 kwintal per hektare. Tahun 2005, surplus beras di Sumatra Utara mencapai 429 ton dari sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras di daerah ini.
• Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas areal tanaman karet di Sumut 489.491 hektare dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas areal karet menurun atau tinggal 477.000 hektare dengan produksi yang juga anjlok menjadi hanya 392.000 ton.
• Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya di Sumatra Utara seluas 132.254 ha meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi mengalami kerusakan sangat kritis.
• Produk Pertanian. Sumatra Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkih, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas perkebunan, Sumatra Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur-mayur dan buah-buahan); misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.
Perbankan
Selain bank umum nasional, bank pemerintah serta bank internasional, saat ini di Sumut terdapat 61 unit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 7 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Data dari Bank Indonesia menunjukkan, pada Januari 2006, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diserap BPR mencapai Rp 253.366.627.000 dan kredit mencapai Rp 260.152.445.000. Sedangkan aktiva mencapai Rp 340.880.837.000.
Sarana dan prasarana
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara juga sudah membangun berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antar kabupaten maupun antar provinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, maka Sumatra Utara dibagi ke dalam empat wilayah pembangunan.
Pertambangan
Ada tiga perusahaan tambang terkemuka di Sumatra Utara:
• Agincourt Resources Martabe
• Sorikmas Mining (SMM)
• Dairi Prima Mineral (DPM)
Transportasi
Gerbang tol Tanjung Morawa. Dari sisi kendaraan, terdapat lebih 1,38 juta kendaraan roda dua dan empat di Sumatra Utara. Dari jumlah itu, sebanyak 873 ribu lebih berada di Kota Medan. Provinsi Sumatra Utara sudah terhubung dengan tiga jalan tol yang merupakan bagian dari proyek tol Trans-Sumatra yaitu, jalan tol Medan-Tebing Tinggi yang menghubungkan wilayah Mebidangro, kabupaten di pesisir timur dan bandara internasional Kualanamu dan direncanakan menghubungkan ke provinsi Riau, jalan tol Belawan-Tanjung Morawa yang menghubungkan ke pusat kota Medan dan jalan tol Medan-Binjai yang direncanakan menghubungkan antara Sumatra Utara dan provinsi Aceh.
Bandar Udara Internasional Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang.
Di Sumatra Utara, terdapat 7 bandar udara, yang terdiri dari 2 bandar udara berstatus internasional dan 5 bandara domestik, seperti berikut ini:
1. Bandar Udara Internasional Kualanamu
2. Bandar Udara Internasional Silangit
3. Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing
4. Bandar Udara Aek Godang
5. Bandar Udara Binaka
6. Bandar Udara Lasondre
7. Bandar Udara Sibisa
Perkeretaapian di Sumatra Utara dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatra Utara. Jalur yang dilayani meliputi rute Medan–Siantar, Medan–Rantau Prapat, Medan–Tanjungbalai, Medan–Belawan dan Medan–Binjai. Jalur-jalur ini dahulu merupakan bekas jalur rel Deli Spoorweg Maatschappij yang dahulu digunakan untuk pengangkutan komoditas perkebunan.[18] Dalam rangka mewujudkan hubungan Trans-Sumatra via kereta api, dibutuhkan 30 triliun rupiah untuk membangun jalur kereta api lintas tengah Sumatra sebagai bagian dari proyek jalur kereta api Trans-Sumatra yang akan menghubungkan Aceh, Padang, Palembang, hingga Lampung.
Dari tahun ke tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatra Utara terus meningkat.
Tahun Besaran APBD
2004 Rp 1.440.238.069.000,00
2005 Rp 1.645.876.354.000,00
2006 Rp 2.204.084.729.000,00
APBD 2006 memberikan alokasi Belanja publik Rp 1.577.946.416.580 (71,59%), sedangkan belanja aparatur Rp 626.138.312.420 (28,41%). Pos anggarannya antara lain:
Bidang Nilai
Pertanian Rp 54.544.588.580,00
Kesehatan Rp 131.338.927.000,00
Pendidikan dan Kebudayaan Rp 139.744.257.000,00
Pada tahun 2006 ditargetkan Rp2,087 triliun. Angka tersebut diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp1,354 triliun, dana perimbangan Rp723,65 miliar, dan Lain-lain. Pendapatan yang sah sebesar Rp23,915 miliar. Khusus sektor PAD terdiri dari pajak daerah Rp 1,270 triliun, retribusi daerah Rp 10,431 miliar, laba BUMD sebesar Rp 48,075 miliar, dan lain-lain pendapatan Rp 25,963 miliar. Perolehan dari dana perimbangan meliputi Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp 183,935 miliar dan Dana Alokasi Umum Rp 539,718 miliar. Sedangkan perolehan dari Lain-lain Pendapatan yang Sah diperoleh dari Iuran Jasa Air Rp 8,917 miliar.
G. PEMERINTAHAN
pemerintahan
Pusat pemerintahan Sumatra Utara terletak di kota Medan. Sebelumnya, Sumatra Utara termasuk ke dalam Provinsi Sumatra sesaat Indonesia merdeka pada tahun 1945. Tahun 1950, Provinsi Sumatra Utara dibentuk yang meliputi eks karesidenan Sumatra Timur, Tapanuli, dan Aceh. Tahun 1956, Aceh memisahkan diri menjadi Daerah Istimewa Aceh.
Sumatra Utara dibagi kepada 25 kabupaten, 8 kota (dahulu kotamadya), 325 kecamatan, dan 5.456 kelurahan atau desa.
Gubernur
Gubernur Sumatra Utara bertanggungjawab atas wilayah provinsi Sumatra Utara. Saat ini, gubernur atau kepala daerah yang menjabat di provinsi Sumatra Utara ialah Edy Rahmayadi, dengan wakil gubernur Musa Rajekshah. Mereka menang pada Pemilihan umum Gubernur Sumatra Utara 2018. Edy Rahmayadi merupakan gubernur Sumatra Utara ke-16, sejak provinsi ini dibentuk. Edy dan Musa dilantik oleh presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Istana Negara Jakarta pada 5 September 2018, untuk masa jabatan 2018-2023.
No. Potret Gubernur Mulai menjabat Akhir menjabat Potret Wakil Gubernur
Periode Referensi
16 Edy Rahmayadi
5 September 2018 Petahana
Musa Rajekshah
19
(2018)
[8]
Dewan Perwakilan
DPRD Sumut beranggotakan 100 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Sumut terdiri dari 1 Ketua dan 4 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Sumut yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 16 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Medan, Cicut Setyarso, di Gedung Paripurna DPRD Provinsi Sumatera Utara. Komposisi anggota. DPRD Sumut periode 2019-2024 terdiri dari 11 partai politik di mana PDI Perjuangan adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 19 kursi disusul oleh Gerindra dan Golkar yang masing-masing meraih 15 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sumatera Utara dalam dua periode terakhir.
Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
PKB
3 2
Gerindra
13 15
PDI-P
16 19
Golkar
17 15
NasDem
5 12
PKS
9 11
Perindo
(baru) 1
PPP
4 2
PAN
6 8
Hanura
10 6
Demokrat
14 9
PKPI
3 0
Jumlah Anggota 100 100
Jumlah Partai 11 11
Pemekaran daerah
Dengan dimekarkannya kembali Kabupaten Tapanuli Selatan, maka provinsi ini memiliki kabupaten baru, yaitu Kabupaten Padang Lawas yang beribu kota di Sibuhuan dengan dasar hukum UURI No. 38/2007 dan Kabupaten Padang Lawas Utara yang beribu kota di Gunung Tua dengan dasar hukum UURI No. 37/2007.
H. PARIWISATA
Beberapa objek wisata tersebut telah dikenal luas hingga ke mancanegara, seperti Danau Toba dengan panorama alam yang indah dan Bukit Lawang dengan orangutan Sumatera yang unik, yang berbeda dengan orangutan Kalimantan.
Berikut ini ada beberapa rekomendasi tempat wisata di Sumatera Utara yang menarik untuk jadi tempat liburan kalian.
1. Danau Toba
Danau toba dinobatkan menjadi danau vulkanis terbesar dan terluas di dunia. Sekarang ini Danau Toba sudah sangat populer hingga kalangan internasional. Pemandangan danau yang sejuk dan asri karena terdapat pegunungan hijau di sekitarnya membuat para wisatawan tertarik untuk mengunjungi tempat ini.
Di sini, terdapat banyak spot foto sehingga Anda tentunya tidak akan kecewa jika memiliki hobi berswafoto. Anda juga dapat menggunakan fasilitas sepeda untuk mengelilingi pinggiran danau. Tak hanya itu, fasilitas lainnya yaitu dapat berenang, menaiki perahu, hingga menikmati penginapan yang ada di sekitar Danau Toba.
2. Maha Vihara Adhi Maitreya
Tempat ini biasanya disebut Vihara Cemara Asri oleh masyarakat Medan karena berlokasi di dalam kompleks perumahan Cemara Asri Medan. Tempat ini juga dinobatkan menjadi vihara terbesar di Indonesia. Keunggulannya adalah Anda tidak perlu membayar untuk memasuki vihara ini, namun diharuskan untuk menjaga etika dan ketenangan. Tempat Wisata di Jember Jawa Timur, Nomor 2 Paling Romantis Tempat peribadatan agama Buddha yang satu ini memiliki suasana asri, tersusun rapi, dan bersih, sehingga kegiatan yang paling sering dilakukan pengunjung yaitu mengambil foto. Tentunya untuk wisatawan yang beragama Buddha dapat berbadah di sini.
3. Pulau Samosir
Tempat Wisata di Tasikmalaya, Ada Kampung Naga Pulau Samosir berada persis di tengah-tengah Danau Toba. Tidak lengkap jika berada di Danau Toba tetapi tidak mengunjungi Pulau Samosir. Pulau ini memiliki keindahan alam yang luar biasa. Bagi pencinta foto alam, tempat ini cocok untuk dijadikan destinasi wisata di Sumatera Utara. Tak hanya itu, di sini Anda juga dapat mempelajari sejarah dan riwayat Suku Batak, hingga membeli oleh-oleh aksesori, baju, dan kain khas Batak. Di Pulau Samosir juga dapat Anda temui penginapan sehingga tidak usah khawatir jika ingin bermalam di sini.
4. Istana Maimun
Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli yang populer, istana yang memiliki warna kuning dan berdiri megah di tengah Kota Medan. Terletak di Jalan Brigadir Jendral Katamso, Medan. Bangunannya didominasi warna kuning yang merupakan warna khas Melayu. Anda juga dapat melihat ragam koleksi yang dimiliki istana di masa lalu, seperti potret sultan, singgasana sultan, hingga mempelajari sejarah Kerajaan Deli. Biaya yang dikeluarkan untuk memasuki tempat ini sangat murah yaitu hanya Rp8.000 per orang, dan dibuka pukul 08.00-17.00.
5. Gunung Sibayak
Jika Anda penyuka wisata alam pegunungan, Gunung Sibayak memiliki pesona panorama alam yang begitu luar biasa. Gunung berapi aktif satu ini berjarak sekitar 77 km dari Kota Medan, sehingga kira-kira memakan waktu sekitar 2 jam. Biaya untuk memasuki area Gunung Sibayak sangat murah yaitu hanya Rp4.000 per orang. Suasana dan pemandangan yang ada sangat cocok bagi para penyuka foto dengan latar belakang alam pegunungan.
6. Bukit Lawang
Bukit Lawang merupakan hutan tropis yang berada di dekat pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser. Anda akan disuguhkan dengan kegiatan penjelajahan hutan dan dapat melihat kehidupan fauna dan flora yang bebas di sini. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi paling menarik bagi para pencinta alam. Tenang saja, di sini tersedia banyak tempat menginap. Barangkali Anda ingin bermalam di Bukit Lawang. Jika menuju ke sana, kira-kira akan memakan waktu hingga tiga jam dari Kota Medan, sehingga Anda perlu menyiapkan apa saja yang dibutuhkan selama perjalanan jauh tersebut.
7. Taman Alam Lumbini
Taman Alam Lumbini berada di lereng Gunung Sibayak dan menjadi tempat wisata terpopuler karena keunikannya, yakni pagoda tertinggi di Indonesia. Pagoda ini merupakan tiruan dari Pagoda Shwedago yang terletak di Myanmar. Tempat ini cocok digunakan untuk berswafoto karena tempatnya yang estetik dan historic. Itulah 7 tempat wisata di Sumatera Utara yang memiliki pemandangan alam menakjubkan. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan supaya alam tempat wisata tetap lestari.
Artikel ini telah tayang di www.inews.id dengan judul " 7 Tempat Wisata di Sumatera Utara, Keindahannya Bikin Wisatawan Susah Move On.
I. KEBUDAYAAN
Kebudayaan Sumatera Utara Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya. Indonesia juga terdiri dari beberapa provinsi dengan berbagai kebudayaan yang berbeda dari setiap daerah. Termasuk di Provinsi Sumut yang merupakan salah satu bagian wilayah Indonesia yang memiliki kawasan cukup luas dengan berbagai kebudayaan khasnya. Namun apabila saat ini Anda belum sempat untuk singgah ke Pulau Sumatera khususnya bagian utara, untuk mengenal dan menikmati berbagai kebudayaan khasnya, jangan khawatir karena di bawah ini akan dihadirkan secara detail tradisi Sumatera Utara paling terkenal dan wajib Anda ketahui.
Semakin penasaran saja kan apa saja sih kebudayaan Sumatera Utara yang membuat wilayah ini menjadi terkenal dengan ciri khas budayanya
1. Rumah Adat
Rumah Adat Bolon (img:qudsfata.com)
Rumah adat provinsi Sumatera Utara menjadi ciri khas kecantikan budaya bangsa kita, terdiri dari berbagai budaya bangsa yang semakin mewarnai keindahan Nusantara, termasuk kebudayaan di Sumatera Utara. Dalam pembahasan 7 dari 10 kebudayaan Sumatra Utara ini, kita mulai dengan mengenal rumah adat yang ada di Sumut.
Sudahkah Anda mengenal rumah adat di Sumatera Utara ini?. Ya. Sumut memiliki rumah adat yang khas yang dikenal dengan nama Parsakistan dan rumah adat Jabu Bolon. Untuk rumah adat Parsakistan sendiri merupakan rumah adat Sumatera Utara yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka.
Rumah adat ini terletak di daerah Batak Toba. Selain sebagai penyimpanan barang-barang pusaka, rumah Jabu Parsakistan juga merupakan tempat untuk pertemuan dalam membahas hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan adat. Sedangkan rumah adat Jabu Bolon merupakan rumah yan dijadikan lokasi pertemuan suatu keluarga besar dimana bentuk dari rumah adat ini berbentuk seperti panggung dengan ruang bagian atas sebagai tempat tinggal bersama dan tempat tidur yang didesain lebih tinggi dari posisi dapur.
2. Pakaian Adat
Pakaian Adat Mandailing (img:muhammadimin20.wordpress.com)
Dalam membicarakan budaya Sumatera Utara ini, selanjutnya yang tidak kalah menariknya adalah mengenal baju adat Sumatera Utara. Berbicara tentang pakaian adat Sumatera Utara, Anda akan diperkenalkan dengan baju tenun yang indah dan unik.
Tempat pembuatan kain tenun ini ada di daerah Tapanuli Utara yang merupakan bagian dari kawasan Sumut. Tenunan tradisional Tapanuli ini dikenal dengan nama kain ulos. Kain ulos ini disediakan dengan berbagai variasi yang unik dan khas, seperti Ulos Sibolang, Ulos Godang, Sitoluntoho, Mangiring, Ragi Hidup, Ragi Hotang, dan Sadum.
Pada Upacara Adat bagi kaum pria mengenakan tutup kepala yang dinamakan sabe-sabe dari jenis Ulos Mangiring. Pada bahu juga ditambahi dengan sampiran Ulos Ragi Hotang dan dengan mengenakan kain sarung. Sedangkan bagi kaum wanita, mengenakan Ulos Sadum yang disampirkan pada bagian kedua bahunya dengan cara dililit dengan Ulos Ragi Hotang dan tidak lupa untuk mengenakan sarung suji.
3. Tarian Adat
Tari Sigale Gale (img: bukdeinfo.com)
Berbicara tentang kebudayaan Sumatera Utara, erat hubungannya untuk mengenal nama-nama tarian adat yang mewarnai kebudayaan Sumatera. Ada lebih dari dua tarian adat yang dapat Anda jumpai saat berkunjung ke sini.
Seperti Tari Serampang Dua Belas, Tari Tor-tor, Tari Marsia Lapari, dan Tari Manduda. Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu tarian adat Sumatera Utara yang paling terkenal. Tarian ini merupakan tarian melayu yang diiringi dengan irama musik joget. Dengan sentuhan pukulan-pukulan gendang ala Amerika Latin, Tari ini asyik sekali untuk dinikmati sambil berjoget ria.
Berbeda dengan Tarian Tor-tor yang merupakan tarian daerah Batak dengan latar belakang falsafah peradatan yang disajikan dengan suguhan tarian indah yang menarik. Tidak kalah uniknya dengan Tarian Marsia Lapari. Tarian ini merupakan tarian yang menggambarkan kegiatan gadis-gadis di Provinsi Sumut yang senantiasa saling bahu-membahu dalam menggarap sawahnya.
4. Senjata Tradisional
Senjata Tradisional Piso Gaja Tampak (disiniaja.net)
Untuk mengenal kebudayaan Sumatera Utara ini Anda wajib mengetahui senjata tradisional yang ada di Sumatera Utara yang dikenal dengan nama Piso Surut. Senjata ini jika dilihat dari bentuk dan rupanya mirip dengan sebuah pisau belati yang biasa Anda temui. Senjata tradisonal ini tepatnya menjadi senjata khas daerah Tanah Karo Sumatera Utara. Selain Piso Surut, ada juga Piso Gajah dompak yang berupa sebilah keris panjang yang unik dan khas. Piso Gajah Tombak merupakan lambang penting dari pemerintahan Raja Singamaraja. Senjata tradisional ini hanya boleh digunakan oleh Sang Raja.
Sedangkan senjata tradisional Sumatera Utara yang biasa digunakan oleh masyarakat biasa dikenal dengan nama hujur. Hujur ini berbentuk seperti sejenis tombak dan ponding sejenis pedang yang panjang.
5. Suku Bangsa
Suku Batak (facebook)
Ada beragam suku yang bisa Anda temui saat berada di Sumatera Utara seperti Suku Melayu, Suku Batak, Suku Nias dan masih banyak lagi. Dari berbagai suku ini memiliki gaya dan ragam bahasa yang berbeda. Jangan kaget saat Anda mendengar bagaimana mereka berbicara dengan bahasa dan logat yang pasti terdengar asing di telinga.
6. Lagu Daerah
Selanjutnya, budaya Sumatera Utara yang wajib Anda tahu adalah dari tentang kesenian lagu daerah. Seperti yang Anda tahu, masing-masing daerah memiliki lagu daerahnya masing-masing, tidak terkecuali untuk daerah Sumatera Utara. Sumatera Utara memiliki beberapa lagu daerah yang unik dan indah dengan nada khas dan bahasa yang khas juga.
Sebut saja lagu Butet yang kini banyak dinyanyikan oleh anak-anak di seluruh Nusantara. Umumnya pengenalan lagu dari masing-masing daerah yang ada di Nusantara dikenalkan sejak masih ada di bangku seko lah dasar. Hal ini akan rasa cinta terhadap tanah air menjadi semakin kokoh dan dalam. Selain lagu Butet tadi, Sumatera Utara juga masih mempunyai lagu-lagu daerah yang lainnya seperti Pantun Lama dan Sengko-Sengko. Ketiga lagu ini mempunyai nada segi bahasa yang menarik untuk Anda pelajari agar semakin dekat dengan kebudayaan Nusantara khususnya yang ada di Sumatera dengan mengenal kebudayaan Sumatera Utara ini.
7. Bahasa Daerah
Untuk mengenal ciri khas budaya Sumatera Utara, tidak lengkap rasanya jika belum tahu nama-nama bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Sumatera Utara Sendiri. Sumatera Utara Memiliki bahasa beberapa bahasa yang biasa digunakan dalam berkomunikasi di sana. Seperti Bahasa Batak, Bahasa Karo, Bahasa Nias, Bahasa Mondaling dan lain-lain.
Sungguh indah bukan 7 dari 10 kebudayaan Sumatera Utara ini?. Bagi Anda yang berencana untuk berkunjung ke sana, jangan lupa untuk mengunjungi pusat pembuatan baju adatnya yang ada di daerah Tapanuli supaya kunjungan lebuh puas dengan melihat secara langsung bagaimana cara pembuatan baju adatnya ini. Tidak lupa persiapkan diri Anda untuk menyaksikan keindahan tarian khasnya yang menarik dan mempesona.
J. TOKOH TERKENAL
1. Sisingamangaraja XXI
Sisingamangaraja XXI (Dok.bloggueloe.blogspot.com)
Pahlawan ini lahir di kelahiran tanah batak di Bakara pada 1849, wafatnya di Dairi 1907.
Sisingamangaraja XXI pernah menjadi pemimpin batak yang populer, dirinya menggantikan ayahnya bernama Ompu Sohahuaon.
Dirinya melakukan gerilyawan untuk melawan kolonial Belanda.
2. T. Amir Hamzah
Pahlawan ini merupakan sosok Pangeran Indra Poetera yang sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Tengkoe Amir Hamzah lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Tanjung Pura daerah dengan tradisi sastra yang kuat. Langkat, Sumatera Utara.
Sehingga dirinya sendiri memiliki kecintaan akan sejarah, adat-istiadat, dan pengetahuan sastra semakin bertumbuh.
Nah, buat Amir Bahasa Indonesia sebuah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan, dan juga keislaman. Rasa cintanya terjadap Indonesia dituangkannya lewat syair-syair yang indah.
Di waktu wafatnya pada tanggal 20 Maret 1946 di Kwala Begumit, Binjai, dan ditetapkan dirinya sebagai pahlawan nasional pada tahun 1975.
3. Adam Malik
Pahlawan ini merupakan mantan Wakil Presiden Indonesia yang ketiga dan pernah menjadi Menteri di beberapa bidang, termasuk Menteri Luar Negeri.
Lahirnya di Pematangsiantar, 22 Juli 1917. Adam Malik ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1998.
4. Djamin Ginting
Selanjutnya, ada pahlawan bernama Letjen. Djamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah,
Kabupaten Karo pada 12 Januari 1921.
Pahlawan ini merupakan suku Karo bermarga Ginting. Dirinya merupakan tokoh pejuang kemerdekaan yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo.
Selain itu, cerita punya cerita Djamin seorang petinggi TNI yang berhasil menumpas pemberontakan Nainggolan di Medan pada April 1958.
Djamin Ginting wafat tidak di Indonesia. Namun, di Ottawa, Kanada pada tanggal 12 Januari 1921. Sehingga ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 7 November 2014.
5. T.B Simatupang
Untuk pahlawan ini merupakan suku batak yang bernama lengkapnya adalah Tahi Bonar Simatupang, lahir pada 28 Januari 1920 di Sidikalang, Sumatera Utara.
Dirinya pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP) hingga tahun 1953. Sehingga T. B. Simatupang diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2013. Wafatnya pada tanggal 1 Januari tahun 1990, di Jakarta.
Nah, untuk mengenang jasanya. Wajah beliau diabadikan pada pecahan uang logam pecahan Rp500 pada tanggal 16 Desember 2016.
6. Abdul Haris Nasution
Abdul Haris Nasution yang merupakan pahlawan bersuku Mandailing yang lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 September 1918. Beliau wafat di Jakarta pada 6 September 2000.
A. H. Nasution berpangkat Jenderal TNI, yang menjadi salah satu sasaran dalam pembantaian Gerakan 30 September.
Tak hanya dirinya yang menjadi korban. Namun, putri kesayangannya juga ikut menjadi korban saat peristiwa G30S PKI, Ade Irma Suryani dan ajudannya, Lettu Pierre Tandean.
Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI, juga Panglima Angkatan Perang RI, sehingga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada November 2002.
7. Dr. Ferdinand Lumbantobing
Dr. Ferdinand Lumbantobing (Dok.kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ferdinand Lumabntobing kelahiran Sibolga pada 19 Februari 1899, yang merupakan seorang dokter, politis sekaligus juga pejuang hak asasi pasukan buruh di Indonesia.
Dirinya lulusan sekolah dari kedokteran STOVIA, yang pernah menjabat sebagai menteri di berbagai departemen. Seperti Menteri Penerangan, Menteri Hubungan Antar Daerah, Menteri Transmigrasi dan Menteri Kesehatan.
Nah, selain itu beliau juga pernah menjabat sebagai pemimpin di Sumatera Utara atau Gubernur Sumatera Utara.
8. KH. Zainul Arifin
Pahlawan ini merupakan seorang putra tunggal dari raja Barus, yaitu Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan perempuan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing, Siti Baiyah boru Nasution.
Dirinya kelahiran Tapanuli Tengah pada tahun 1909. Dalam masa hidupnya, beliau merupakan seorang politisi dan gerilyawan.
9. Mayjen. D. I. Pandjaitan
Donald Izacus Pandjaitan, atau lebih dikenal dengan D. I. Pandjaitan, merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia berdarah batak, yang lahir di Balige, 19 Juni 1925.
D. I. Pandjaitan merupakan seorang Jenderal Angkatan Darat yang menjadi salah satu korban pembantaian pada Gerakan 30 September.
Sehingga dirinya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada Oktober 1965. Dalam mengenang jasa-jasanya maka dibangun Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
10. Kiras Bangun
Kiras Bangun (dok. biografi-tokoh-ternama.blogspot.com)
Kiras Bangun sosok Pahlawan Nasional Indonesia, bersuku Karo. Kiras Bangun juga dikenal dengan nama Garamata.
Dirinya lahir pada tahun 1852 di Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Perjuanganya dikenal sebagai penentang penjajahan Belanda dengan menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Aceh.
Di akhir perjuangannya kemudian dibuang ke Cipinang bersama kedua anaknya. Selanjutnya, Beliau pun gugur pada 22 Oktober 1942 dan dimakamkan di Desa Batukarang dan dianugrahi gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2005.
Nah, buat kamu tetap update pada jaman saat ini. Namun, jangan sekali-kali melupakan sejarah atau di singkat "Jas Merah" yang dicetus oleh A.H Nasution.
Seperti yang dikatakan Presiden pertama, Bung Karno saat pidato "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" pada 17 Agustus 1966.
11. Prof. Drs. Lafran Pane
Drs. Lafran Pane (dok.fr-fr.facebook.com)
Pahlawan ini merupakan anak keenam keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama.
Dirinya merupakan sosok pendiri Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) yang lahir pada 5 Februari 1922 di Padang Sidimpuan, Tapanuli Selatan Sumatera Utara dan Wafat pada 25 Januari 1991 di Yogyakarta.
Beliau juga menjadi salah satu sarjana ilmu politik pertama di Indonesia, selanjutnya Lafran Pane lebih tertarik di lapangan pendidikan dan keluar dari Kementerian Luar Negeri dan masuk kembali ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pada tahun lalu di 2017. Beliau ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional yang dikenal sangat sederhana.
Nah, buat kamu tetap update ya pada jaman saat ini. Namun, jangan sekali-kali melupakan sejarah atau di singkat "Jas Merah" yang dicetus oleh A.H Nasution.
Seperti yang dikatakan Presiden pertama, Bung Karno saat pidato "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" pada 17 Agustus 1966.
12. Sutan Mohammad Amin Nasution
Sutan Mohammad Amin (Wikipedia/Kami Perkenalkan. 1954. Jakarta: Ministry of Information)
Pahlawan nasional dari Sumatra Utara bertambah tahun lalu. Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020 tadi, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Sutan Mohammad Amin Nasution.
SM Amin pun menjadi pahlawan nasional ke-12 dari Sumut. Perlu diketahui SM Amin adalah Gubernur pertama Sumatra Utara.
Sejarawan USU, Budi Agustono, menjelaskan soal sosok SM Amin. Sebenarnya Amin bukan orang asli Sumut. Dia lahir di Aceh pada 22 Februari 1904, dalam masa penjajahan yang membuat hidupnya bergejolak. Dia akhirnya menjadi aktivis.
"Jadi dengan pendidikan yang dimiliki dia menjadi seorang aktivis pergerakan, karena dia tidak ingin menjadi pegawai pemerintah. Karena dia tahu betul kalau bangsanya pada awal abad 20 mengalami proses keterbelakangan,” ujar Budi.
Budi menjelaskan semasa muda, selain sebagai pejuang dia sekaligus pemikir yang andal. Dia banyak menulis soal perjuangan dan bergabung dengan organisasi politik melawan Belanda.
"Dia pernah masuk Jong Sumatra, kemudian dia masuk Gerindo. Gerindo ini salah satu partai politik bangsa pada waktu itu yang cukup radikal, saya kira anti kapitalis waktu itu,” ujar Budi.
Dari catatan sejarah, karena perjuanganya karir politik ikut menanjak pada tahun 1947. Amin diangkat menjadi Gubernur Sumatera Utara pertama. Di tahuh pertama, Amin dihadapkan dengan agresi Belanda yang ingin mengambil kekuasan di Sumut. Di sisi lain, ada juga persoalan internal yang belum selesai lantaran negara Indonesia baru terbentuk.
"Bayangkanlah ketika republik muda sedang mengalami penyesuaian sebagai bangsa merdeka lalu berhadapan dengan situasi internal terutama persoalan ekonomi dan politik yang belum kuat sebagai republik baru. Ditambah asing yang ingin menjajah kembali," ujar lelaki yang menjabat Dekan Fakultas Budaya USU ini.
Di tengah kemelut politik dan ekonomi ini, SM Amin kata Budi, sebagai gubernur mampu menyelesaikan persoalan struktural. "Ini kontribusi besar SM Amin untuk bangsa dan rakyat Sumatra Utara," ujar Budi
K. PERGURUAN TINGGI DAN PENDIDIKAN
5 Perguruan Tinggi Negeri Terbaik di Sumatera Utara
Provinsi yang beribukota Medan ini memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Salah satunya adalah banyaknya perguruan tinggi negeri dan swasta di Sumut. Berikut ini akan dibahas daftar Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta atau Perguruan Tinggi yang ada di Provinsi Sumatera Utara.
Perguruan Tinggi di Provinsi Sumatera Utara
Wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi keempat di Indonesia ini memiliki tingkat pendidikan yang tidak kalah maju dengan provinsi lain di Indonesia. Banyaknya perguruan tinggi yang ada di Sumatera Utara bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Anda yang ingin melanjutkan studi.
Perguruan tinggi negeri dan swasta tersebar di seluruh wilayah di Sumatera Utara. Simak penjelasan di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang perguruan tinggi negeri di Sumatera Utara.
1. Universitas Sumatera Utara
Salah satu universitas terbaik di wilayah Sumatera terletak di Jalan Abdul Hakim No. 1, Padang Bulan, Medan Baru, Sumatera Utara. Universitas ini lebih dikenal dengan USU. Universitas ini menyediakan berbagai jenjang pendidikan mulai dari D3 hingga S3.
USU memiliki 152 program studi unggulan yang terbagi dalam 15 fakultas antara lain: pertanian, farmasi, hukum, ilmu budaya, ilmu komputer dan teknologi informasi, ilmu sosial dan politik, kedokteran, kedokteran gigi, kehutanan, 20000, kesehatan masyarakat, matematika dan ilmu alam. , pertanian, psikologi, dan Teknik.
2. Universitas Negeri Medan
Kampus selanjutnya di Sumatera Utara adalah UNIMED atau Universitas Negeri Medan. Kampus yang terletak di Jalan Willem Iskandar, Medan ini telah terakreditasi A.
Kampus yang menduduki peringkat 21 di Indonesia ini memiliki 34 Program Studi yang terbagi dalam 7 Program Studi Arsitektur, antara lain: Fakultas Bahasa dan Arsitektur, Arsitektur, Arsitektur, Olahraga, Ilmu Pendidikan, Arsitektur, Arsitektur, Arsitektur, dan Ilmu Pengetahuan Alam.
3. Politeknik Negeri Medan
Masih dari kampus di Medan yaitu Politeknik Negeri Medan atau dikenal dengan POLMED sudah terakreditasi B. Kampus berpenduduk sekitar 5.429 mahasiswa ini hanya fokus pada pendidikan vokasi.
Beberapa yang ada di UNIMED antara lain: Teknik mesin yang terdiri dari 1 program studi, teknik sipil yang terdiri dari 2 program studi, teknik elektronika yang terdiri dari 2 program studi, teknik komputer dan informatika yang terdiri dari 3 program studi, akuntansi yang terdiri dari 2 program studi, dan administrasi negara yang terdiri dari 2 program studi.
4. Politeknik Negeri Media Kreatif
Bagi Anda yang menyukai dunia desain grafis atau dunia multimedia, Politeknik Negeri Media Kreatif bisa menjadi salah satu pilihan Anda. Politeknik ini biasa disebut dengan POLIMEDIA.
Politeknik yang fokus pada dunia multimedia dan desain grafis ini memiliki 16 program studi yang terbagi menjadi 6 jurusan/fakultas, antara lain: Jurusan Desain, Penerbitan, Teknik Grafis, Pariwisata, PSDD Medan, dan PSDD Makassar.
5. UIN Sumatera Utara
Universitas di Sumatera Utara selanjutnya adalah UIN Sumatera Utara. Sesuai dengan namanya, UIN Sumatera Utara merupakan perguruan tinggi negeri yang berbasis Islam.
Saat ini UIN SUMUT memiliki tiga kampus cabang, antara lain kampus I yang berlokasi di Jalan IAIN No. 1 Medan, kemudian Kampus II berlokasi di William Iskandar Pasar V Medan Estete yang merupakan kampus pusat administrasi, dan Kampus III berlokasi di Jalan Surya Komplek Pondok. Helvetia Timur Medan.
Kampus ini memiliki 8 arsitektur yang kesemuanya berkaitan dengan agama Islam, seperti Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Arsitektur dan Komunikasi, Usuluddin dan Kajian Islam, Fakultas Sains dan Teknologi, dan Arsitektur. .






.jpg)



_(01).jpg)































